Mengalir kecil sebuah Sungai Pepe di Surakarta, Jawa Tengah, sebuah sungai yang tak sebesar dan tak seternama Bengawan Solo. Sungai itu melintasi desa di wilayah Srambatan yang penuh dengan kayu dan bambu di masa silam. Sebuah rumah sangat sederhana dari gedhek (anyaman bambu) berdiri meski tak begitu kokoh di bantaran sungai Pepe.
Dari situlah cerita ini bermula, ketika kamar paling murah di RS Brayat Minulyo menjadi saksi bisu lahirnya seorang yang sederhana pula di hari Rabu Pon, tanggal 21 bulan Juli tahun 1961. Tangis bahagia keluar dari Sujiatmi ketika melahirkan buah cintanya dengan Notomiharjo waktu itu. Nyala redup lampu semprong mengiringi bayi laki-laki yang akhirnya diberi nama Joko Widodo.Tak jauh berbeda kehidupan bantaran kali masa kini dengan kala itu, banyak digusur atau pun diminta pindah oleh pemilik rumah. Kehidupan Joko Kecil diwarnai oleh suasana nomaden karena harga sewa rumah terus naik.Bantaran sungai Dawung Kidul menjadi tempat hinggapan kedua dengan suasana yang tak jauh berbeda tapi ukuran yang lebih kecil. Berpindah lagi ke daerah Munggur yang lagi-lagi dialiri Sungai Pepe, di situlah kebahagiaan keluarga Notomiharjo bertambah dengan kehadiran tiga putri lagi. Penghasilan pas-pasan sebagai tukang kayu di desa membuat Notomiharjo harus memutar otak dengan keras.
Tapi dari kayu itulah Notomiharjo bisa menyekolahkan Joko Kecil dan ketiga putrinya. Bantaran Kali Anyar menjadi persinggahan selanjutnya karena di situ itulah sebuah pasar kayu besar bergeliat. Kehidupan keluarga Notomiharjo sedikitnya berubah dari riuh rendah perkampungan menjadi ramai-ramai suasana Pasar Gilingan, Surakarta "Orang tua saya, Notomiharjo dan Sujiatmi, adalah sosok luar biasa yang tahu bagaimana mengelola keluarga bahagia walau berada dalam kondisi serba terbatas," ujar Joko Widodo seperti dikutip detikcom dari buku 'Jokowi: Memimpin Kota Menyentuh Jakarta' karya Alberthiene Endah, Selasa (22/7/2014). Pertama kali Joko kecil bersekolah adalah di SD Negeri 111 Tirtoyoso, Solo, selama 6 tahun sejak 1968.
Tak ada biaya untuk membeli sepeda untuk menemani dia sekolah, maka jalan kaki adalah yang paling memungkinkan.Langkah demi langkah Joko kecil hingga usia 12 tahun rupanya membuat dia melihat-lihat bagaimana cara menggergaji kayu dan memotong bambu. Telur-telur bebek yang tergeletak tak bertuan juga menarik perhatian bocah itu. Tak ingin berlama-lama menjadi beban ayahnya yang hanya tukang kayu, dia juga memulai berpikir bagaimana cara berdagang. Rasa tertariknya pada dunia dagang berdagang dituangkan dengan memanggil-manggil pedagang apa pun yang lewat. "Saking getolnya saya memanggil pedagang, suatu kali saya dengan kencang meneriaki abang yang entah berdagang apa agar mendekat. Ternyata dia pedagang arang. Terlanjur dipanggil, ya terpaksa Ibu membayar arang-arang tersebut, padahal saya tidak butuh," kata Jokowi. Memang pedagang-pedagang keliling kala itu menginspirasi Joko kecil untuk gigih mencari nafkah. Sejak itu dia semakin akrab dengan dunia 'wong cilik'. "Masa kecil saya adalah pembelajaran pertama tentang bagaimana memahami kehidupan rakyat. Apa yang saya lakoni saat ini tak bisa terlepas dari atmosfer yang menumbuhkan saya. Bantaran sungai kumuh di Surakarta itu mengajarkan saya banyak hal. Hidup manusia dan harapan," tutur Joko Widodo.
Sudah terbiasa melangkahkan kaki dari Pasar Gilingan menuju sekolah, rupanya Joko kecil harus pindah lagi bersama keluarganya. Notomiharjo yang tak sanggup lagi membayar sewa rumah pun terpaksa mengajak keluarganya menumpang tinggal di rumah kakak dari Sujiatmi yang terletak di wilayah Gondang Meski sudah tidak lagi tinggal di tengah ramainya Pasar Gilingan, suasana di Gondang terasa lebih hangat. Satu atap dengan keluarga besar membuat Joko kecil merasakan kehangatan.Di sisi lain kehidupan menumpang seperti itu sebenarnya tak seharusnya terjadi. Biar bagaimana pun sebuah keluarga harus mampu menjalani kehidupan sendiri. Usaha Notomiharjo berjualan kayu juga semakin terpuruk karena tak lagi bisa berjualan di Pasar Gilingan yang ramai. Bertolak dari kondisi tersebut akhirnya membuat Notomiharjo merambah ke jalanan, menjadi sopir.
Ayah Joko itu menapaki dunia persopiran mulai dari sopir pribadi hingga sopir bus antar provinsi. Setiap malam Sujiatmi menunggu suaminya pulang hingga larut. Tapi ternyata usaha gigih itu tak sia-sia, Notomiharjo kemudian mengajak keluarganya pindah dan mengontrak rumah sendiri di wilayah Manahan. Ketika itu Joko sudah menginjak usia remaja dan melanjutkan jenjang pendidikan ke SMP 1 Solo, sebuah sekolah yang bisa dibilang favorit. Kehidupan masa SMP Joko Widodo tak banyak mengisahkan hal-hal baru, masih tetap diselimuti kesederhanaan meski Sang Ayah cukup sukses menjadi sopir. Melangkahlah kemudian Joko Widodo ke SMA Negeri 6 Solo, setelah kurang sukses terseleksi masuk ke SMA Negeri 1 Solo.
Sebuah ukiran baru terbentuk ketika Joko Widodo menginjakan kaki di SMA. Saat itu akhirnya sang ayah bisa membeli rumah kecil-kecilan di tengah kota Solo sehingga tak lagi menjadi nomaden bantaran kali. "Kerap kali saya mensyukuri perubahan hidup kami yang membaik. Tapi tak jarang pula saya rindu bunyi air sungai yang mengantar saya tidur hingga bangun lagi di pagi hari," ungkap Joko Widodo yang sekarang akrab dipanggil Jokowi. Selepas SMA saya meneruskan kuliah ke Jurusan Teknologi Kayu, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada dan lulus tahun 1985
. Saya bisa kuliah atas kebaikan keluarga besar Bapak dan Ibu yang mampu membiayai kuliah. Bahkan Kakek juga ikut membantu dengan menjual sapinya. Intinya, banyak orang membantu saya. Selama kuliah, saya kos di Yogyakarta. Seminggu atau sebulan sekali pulang ke Solo naik bus. Rumah kosnya cari yang murah, karena itu sempat pindah sampai lima kali. Nah, sejak tingkat satu saya sudah mulai pacaran dengan gadis cantik nan sederhana yang bernama Iriana. Dia teman adik saya yang sering bermain ke rumah, jadi kami sering bertemu.
Sejak kenal Iriana, saya tak pernah pindah ke lain hati sampai akhirnya kami menikah pada 24 Desember 1986. Setelah selesai kuliah pada 1985, saya lalu bekerja di sebuah BUMN di Aceh selama 1,5 tahun. Kemudian saya menikahi Iriana. Kini kami dikaruniai tiga buah hati, Gibran Rakabumi (25), Kahiyang Ayu (21), dan Kaesang Pangarep (17). Jadi Eksportir Saya memutuskan berhenti kerja dari BUMN dan pulang ke Solo untuk merintis bisnis mebel dengan modal minus. Artinya, saya harus pinjam uang ke bank. Agunannya, sertifikat tanah milik orangtua. Risiko yang harus saya tanggung, jika tidak bisa mengembalikan uang berarti tanah melayang. Tetapi sejak dulu saya orangnya optimis, karena untuk memulai satu pekerjaan modalnya hanya itu. Selain optimis, saya juga menyertainya dengan kerja keras.
Sembilan tahun lamanya saya kerja dari pagi hingga pagi lagi karena merasa tak punya apa-apa. Saya rasa, sebagian besar orang Solo tahu tempat usaha saya dulu seperti apa. Dimulai dari sewa tempat yang terbuat dari gedheg (anyaman bambu, Red. ) kecil. Waktu itu saya baru mampu mempekerjakan tiga tenaga, sehingga mulai dari masah kayu hingga membuat konstruksi dan nyemprot mebel, saya lakukan sendiri. Sampai kini pun, misalnya, saya disuruh membuat mebel dengan mesin yang amat sederhana hingga mesin modern, ya, masih bisa. Urusan marketing pun saya lakukan sendiri.
Saya kerja melebihi jam kerja orang lain. Kalau enggak percaya, tanya saja istri saya. Kadang saya sampai tidur di pabrik untuk menyelesaikan pekerjaan. Ini saya lakukan selama sembilan tahun! Buat saya, kesempatannya hanya itu. Kalau tidak saya pergunakan dengan baik, habislah saya. Oh, ya, saat itu saya baru punya satu anak. Karena sering tidur di pabrik, saya jadi jarang membimbing anak belajar atau membantu mengerjakan PR-nya. Tetapi antar-jemput anak ke sekolah masih bisa saya lakukan. Selama itu pula istri menemani saya jatuh bangun merintis bisnis. Dulu, rambutnya sering kotor terkena serbuk gergaji kayu karena dia juga sering menemani saya hingga malam hari di pabrik. Mebel paling awal yang saya buat adalah bedroom set .
Dulu jualannya hanya di Solo saja. Setelah tiga tahun berjalan, saya sudah mulai bisa mengekspor. Perjuangan saya menjadi eksportir dimulai dari menjadi anak angkat Perum Gas Negara. Saya mengenal Perum Gas Negara melalui Desperindag. Saat itu saya diikutkan dalam kualifikasi sehingga bisa mendapatkan “bapak angkat”. Begitulah Tuhan memberi jalan. Awalnya oleh Perum Gas Negara saya dipinjami deposito untuk modal pinjam uang ke bank. Semula saya hanya akan dipinjami Rp 50 juta. Saya bilang, “Maaf, saya ingin bikin ‘nasi’. Kalau cuma dipinjami Rp 50 juta, ‘bubur’ saja tidak akan jadi. Saya tidak mau.” Setelah itu saya tunjukkan rencana kerja saya kepada mereka. Akhirnya mereka percaya dan mau meminjami lebih. Saat itu tahun 1996, saya berhasil meminjam uang yang kalau sekarang nilainya sekitar Rp 600 juta. Saya diberi target, setelah dua tahun saya harus bisa ekspor. Ternyata baru enam bulan saya sudah mampu mengekspor. Utang pun mampu saya lunasi dalam waktu tiga tahun. Malah tahun berikutnya saya dapat pinjaman lebih besar lagi. Pertama kali menjadi eksportir, tiga bulan saya baru kirim satu kontainer, ha ha ha... Setelah rajin ikut pameran, dalam satu bulan sudah ada permintaan 18 kontainer. Awalnya saya ikut pameran di Jakarta, lalu ke Singapura dan akhirnya ke Eropa, Amerika Eropa Timur, dan Timur Tengah. Rasanya semua benua sudah saya datangi. Pokoknya kalau ada pasar baru, sudah dipastikan saya bisa masuk. Hasilnya, hampir semua negara jadi tujuan ekspor usaha mebel saya.

Setelah sampai di skala itu pun saya masih tetap terjun langsung ke lapangan. Saya punya prinsip, selalu menerima order yang masuk. Kalau tak mampu saya tangani, akan saya ‘lempar’ ke teman-teman, tapi tetap saya yang pegang kontrol. Keputusan-keputusan seperti ini memang harus dihitung matang dengan detail plus-minus risikonya. Tak bisa diputuskan di belakang meja, karena bisa keliru. Nah, sejak saya jadi walikota, bisnis mebel kemudian ditangani adik saya, sebab ketiga anak saya belum ada yang tertarik ke dunia mebel. Si sulung Gibran yang saya sekolahkan di bidang marketing di Singapura dan Australia justru tertarik ke bisnis katering.
Walau sedikit kecewa, tapi saya bangga dia berhasi dengan usaha pilihannya. Calon Walikota Di kalangan tukang kayu, nama saya memang dikenal. Tetapi ketika mencalonkan diri sebagai calon walikota, tak ada yang mengenal siapa Jokowi. Jujur, keinginan mencalonkan diri ini tidak datang dari diri pribadi, tapi didorong-dorong teman-teman di Asmindo (Jokowi adalah Ketua Asmindo periode 2002-2005, yang anggotanya para pebisnis kayu dan mebel, Red. ).
Merekalah yang meminta saya terjun ke dunia politik. Jadi ketika kemudian benar-benar jadi walikota, bagi saya itu ‘kecelakaan’ karena tidak ada persiapan sama sekali, ha ha ha... Kendati demikian, sebelum akhirnya nyalon saya membuat kalkulasi yang matang. Peta lapangannya saya hitung dan kuasai. Untuk apa nyalon walikota kalau untuk kalah? Saya akhirnya bersedia maju, ya, untuk menang. Hasil kalkulasi saya, kesempatan menang ketika itu 50 persen. Semisal bila hasilnya 30 persen, saya tidak akan mau maju. Saya merasa optimis karena saat itu calon lain banyak-banyakan pasang gambar billboard , sementara saya memilih door to door . Saya dan Pak Rudy (FX Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Solo sekarang, Red. ) mendatangi sendiri warga dari RT ke RT.
Hampir setiap hari seperti itu. Yang kira-kira termasuk ‘pasar’ saya, saya masuki. Saya sodorkan visi-misi saya menjadi walikota. Ketika bertemu warga, saya ajak mereka bicara. Dari sini saya tahu apakah orang itu mendukung saya atau tidak. Kepada warga pula, ketika itu saya menawarkan tiga hal. Yakni soal perbaikan kesehatan, pendidikan, dan penataan kota. Saya memang merasa penataan Kota Solo semrawut, tidak rapi dan tertata. Kawasan kumuh ada di semua titik. Pedagang kaki lima bertebaran di mana-mana sehingga pasar tradisional melimpah ke jalan. Becek, bau dan kotor.
(sumber detik.com & nova )





